MANFAAT KATALOGISASI DULU DAN KINI
Kadek ayu sri utami willasari
Program
studi D3 Perpustakaan FISIP Universitas Udayana
ABSTRAK
Tujuan
dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui manfaat katalogisasi dari dulu
hingga kini, dan didalam penulisan paper ini dapat memberi gambaran untuk dapat
mengetahui apa saja manfaat katalog perpustakaan pada waktu dulu hingga kini.
Katalog perpustakaan adalah daftar bahan pustaka yang ada di perpustakaan dengan
dilengkapi oleh semua cantuman bibliografis sesuai dengan sistem yang telah
ditentukan pada katalog untuk semua jenis bahan pustaka yang dimiliki
perpustakaan dan katalogisasi atau pengatalogan adalah proses pembuatan katalog
dimana dalam katalog dicantumkan data penting yang terkandung dalam bahan
pustaka, baik ciri fisik maupun isi intelektual, seperti nama pengarang,judul
buku, penerbit dan subjek, jadi katalogisasi adalah proses pengambilan
keputusan yang menuntut kemampuan mengintepretasikan dan menerapakan berbagai
standar sehingga hal-hal penting dari bahan pustaka terekam menjadi katalog.
Pengatalogan adalah kegiatan menyiapkan pembuatan wakil ringkas dokumen atau
katalog untuk digunakan sebagai sarana temu kembali, agar dokumen yang dicari
dapat ditemukan dengan cepat dan tepat. Dan untuk mengetahui bentuk fisik
katalog dari masa ke masa berfokus pada katalog yang telah ditetapkan,
mengingat kegiatan katalogisasi adalah hal yang sangat penting diperpustakaan.
Kata kunci :
pengertian katalogisasi dan manfaat katalogisasi dulu dan kini
Latar belakang
Katalog adalah daftar barang yang
berada pada suatu tempat. Dengan demikian katalog perpustakaan adalah daftar
bahan pustaka yang ada dalam perpustakaan. Sebaliknya, bibliografi adalah
daftar bahan pustaka yang terkumpul dalam bidang tertentu, tetapi tidak harus
berada disatu tempat. Untuk meyampaikan kepada pemakai bahan pustaka apa yang
dimiliki perpustakaan, disediakan katalog yang mencatat ciri masing-masing
bahan pustaka yang diperlukan untuk mengidentifikasikannya dan membedakan satu
bahan pustaka dari yang lain. Untuk mencari kembali bahan pustaka tertentu
dalam koleksi perpustakaan, katalog merupakan alat pencari yang terpenting.
Akan sulit sekali, bahkan mustahil, untuk menggunakan perpustakaan yang sedang
besarnya tanpa ada katalog. Dapat dikatakan bahwa katalog perpustkaan merupakan
kunci untuk menemukan bahan pustaka dalam koleksi perpustakaan.
Katalog merupakan sarana temu
kembali informasi, katalog diperpustakaan merupakan hal yang memiliki peranan
penting untuk mengakses seluruh bahan pustaka yang ada di perpustakaan, apalagi
mengingat koleksi yang ada diperpustakaan pasti akan terus bertambah dan
tentunya keberadaan katalog ini sangatlah diperlukan. Hal ini diperlukan karena
para pengguna akan mengalami kesulitan dalam pencarian bahan pustaka karena
banyaknya rak buku yang berjajar, dan tentunya akan menghabiskan waktu yang
lama untuk mencari buku yang kita inginkan apabila kita tidak mengetahui dimana
letak keberadaan buku tersebut.
Seiring dengan perkembangan zaman,
katalog semakin berkembang dengan pesatnya. Sudah terbukti yang dulunya hanya
digunkan untuk kegiatan pendataan senjata senjata militer saja tetapi seiring
berjalannya waktu katalog berkembang juga sampai pada perpustakaan. Semakin
hari penggunaan katalog semakin terasa manfaatnya bisa dibayakngkan apabila
tidak ada katalog, segala hal yang akan dicari tidak akan dengan mudah
ditemukan, waktu yang digunakan juga akan habis terbuang. Oleh karena itu peran
katalog sebagai wakil dari suatu koleksi itu benar sangat dibutuhkan dimana pun
dan kapan pun.
PEMBAHASAN
Pengertian katalogisasi
Katalog bersal dari bahasa latin “catalogus” yang berarti daftar, dalam
pengertian umum katalog diartikan sebagai daftar nama-nama, judul dan
barang-barang. Dalam sejarah kepustakawanan, katalogisasi atau pengkatalogan
merupakan keterampilan yang sudah dimiliki sejak berabad-abad lamanya, sebagai senarai
inventaris. Dalam dunia perpustkaan katalog diartikan sebagai daftar berbagai
jenis koleksi, dapat berupa buku yang dibuat menurut sistem atau cara tertentu,
secara alfabetis maupun secara sistematis untuk memudahkan penemuan kembali
bahan pustaka yang dibutuhkan pemustaka (user) maupun oleh petugas
perpustakaan.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia
(2001): katalog merupakan secarik kartu atau buku yang memuat nama benda atau
informasi tertentu yang ingin disampaikan, disusun secara berurutan, teratur
dan alfabetis : kartu membantu memudahkan orang mencari buku di perpustakaan ;
berkas katalog yang dibuat pada slip kertas yang diikat dijilid berkas untuk
memungkinkan adanya penyisipan bahan baru yang tepat susunannya. Katalog juga
merupakan gamabaran dari fisik sebuah dokumen. Hasil pokok dari kegiatan
katalogisasi adalah penyusunan dari bahan pustaka dan pemeliharaan katalog yang
memberikan akses utama kepada koleksi. Katalog perpustakaan adalah daftar semua
bahan pustaka yang ada di perpustakaan dengan dilengkapi oleh semua cantuman
bibliografis sesuai dengan sistem yang telah ditentukan pada katalog untuk
semua jenis bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan. Hal ini diharapkan dapat
membantu pemustaka (user) maupun pengelola (pustakawan) untuk menemukan kembali
bahan pustaka yang diperlukan dengan cepat dan tepat.
Beberapa definisi katalog menurut
ilmu perpustakaan dapat disebutkan sebagai berikut :
Ø Katalog
berarti daftar berbagai jenis koleksi perpustakaan yang disusun menurut sistem
tertentu. ( Fathmi, 2004)
Ø A catalogue is a list of, an index to, a
collection of books and/ or other materials. It enables the user to discover :
what material is present in the collection, where this material may be found. (hunter)
Ø Suatu daftar
yang sistematis dari buku dan bahan-bahan lain dalam suatu perpustkaan dengan
omformasi deskriptif mengenai pengarang, judul, penerbit, tahun terbit, bentuk
fisik, subjek, ciri khas bahan dan tempatnya.
Ø Katalog
perpustakaan adalah daftar buku atau koleksi puataka dalam suatu perpustkaan
atau dalam suatu koleksi ( Sulistyo Basuki, 1991)
Ø Katalog
merupakan suatu rekaman atau daftar bahan pustaka yang dimiliki oleh suatu
perpustkaan atau beberapa perpustakaan yang disusun menurut aturan dan sistem
tertentu. ( dasar dasar ilmu perpustakaan, 2003)
Dari
definisi diatas dapat disimpulakan bahwa katalog merupakan daftar koleksi
perpustakaan atau beberapa perpustakaan yang disusun secara sistematis,
sehingga memungkinkan pengguna perpustkaan dapat mengetahui dengan mudah
koleksi apa yang dimiliki oleh perpustkaan dan dimana koleksi tersebut dapat
ditemukan.
Tujuan dan Fungsi katalogisasi
a.
Tujuan katalogisasi
Menurut
sulistyo-basuki (1991) tuuan dari katalog adalah sebagi berikit :
Ø Memungkinkan
seorang menemukan sebuah buku yang diketahui pengarangnya, judulnya atau
subjeknya.
Ø Menunjukan
buku yang dimilki perpustkaan oleh pengarang tertentu, berdasarkan subjek
tertentu dan dalam jenis literature tertentu.
Ø Membantu
dalam pemilihan buku berdasarkan edisisnya dan berdasarkan karakter karakternya.
b.
Funsi katalogisasi
Fungsi
katalogisasi secara umum adalah sebagai berikut :
Ø Mencatat
bahan pustaka yang ada di perpustakaan untuk memudahkan pengguna.
Ø Mencari atau
menelusur pustaka.
Ø Mempermudah
pencarian buku dalam perpustakaan berdasarkan pengarang, judul dan subjek.
Adapun
fungsi dari catalog adalah sebagai berikut :
1.
Menunjukan temat suatu buku atau bahan lain
dengan menggunakan symbol-simbol angka klasifikasi dalam bentuk nomor panggil.
2.
Mendaftar semua buku dan bahan lain dalam
susunan alfabetis nama pengarang, judul buku, atau subjek buku yang
bersangkutan ke dalam satu tempat khusus perpustakaan untuk memudahkan
pencarian entri-entri tertentu.
3.
Memberikan kemudahan untuk mencari suatu buku
atau bahan lain di perpustakaan dengan hanya salah satu dari daftar kelengkapan
buku yang bersangkutan.
Katalog
merupakan kunci untuk mengetahui isi koleksi dari perpustakaan itu sendiri,
antara lain :
1.
Untuk memberi gambaran yang jelas kepada
pemakai jasa perpustakaan tentang koleksi buku-buku yang terdapat dan dimiliki
oleh suatu perpustakaan.
2.
Untuk menolong pemakai perpustakaan dalam
mendapatkan buku yang diperlukan secara tepat dan cepat.
3.
Agar para pengguna perpustakaan mudah
mendapatkan bahan pustaka yang diinginkan.
4.
Sebagai sarana pemilihan buku yang tepat untuk
mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
5.
Catalog berfungsi sebagai wakil buku yang
memberikan keterangan yang lengkap tentang ciri-ciri buku.
6.
Catalog berfungsi sebagai”an instrument of
communication” yang menginformasikan buku-buku perpustakaan.
Bentuk fisik katalog
Bentuk
katalog yang digunakan di perpustkaan mengalami perubahan-perubahan atau
perkembangan-perkembangan dari masa ke masa. Perkembangan katalog terlihat dari
bentuk fisiknya yang dapat dikelompokan :
·
Katalog berbentu buku ( book catalog )
Katalog berbentuk buku, katalog tersebut sering juga
disebut katalog tercetak. Keuntungan dari katalog berbentuk buku adalah dapat
dietak sesuai dengan kebutuhan, dapat diletakan pada berbagai tempat, dan mudah
disebarluaskan ke perpustakaan lain. Kelebihan dari katalog ini adalah entri
pada katalog berbentuk buku dapat ditemukan dengan cepat, mudah menyimpannya,
mudah menanganinya, bentuknya ringkas dan rapi. Kelemahan dari katalog berbentu
buku adalah cepat using atau ketinggalan jaman. Hal itu terjadi Karena setiap
kali perpustakaan memperoleh buku baru, berarti katalog sebelumnya harus
diperbaruhi kembali, atau setidaknya membuat suplemen. Dengan demikian, katalog
berbentuk buku ini tidak luwes. Biaya pembuatan katalog berbentuk buku
cenderung lebih mahal, karena bentuk dan jumlah cantumannya sering berubah,
katalog berbentuk buku cenderung di tinggalkan oleh perputakaan dan beralih ke
katalog kartu
·
Katalog kartu ( card catalog)
Bentuk katalog kartu masih banyak digunakan di perpustakaa
hingga saat ini. Keuntungan dari katalog kartu ialah bersifat praktis, sehingga
setiap kali penambahan buku baru diperpustakaan tidak akan menimbulkan masalah,
karena entri baru dapat disisipkan pada jajaran kartu yang ada. Penggunaan
katalog kartu tidak dipengaruhi factor luar, misalnya terputusnya aliran
listrik, dan kemungkinan rusak sangat kecil kecuali jika perpustakaan terbakar.
Kelemahannya adalah satu laci katalog hanya menyimpan satu jenis entri saja,
sehingga pemustaka (user) sering harus antri menggunakannya jika berada pada
jumlah yang besar, karena harsu memilah-milah jajaran kartu sesuai urutan
indeksnya.
Katalog berbentuk kartu telah lama digunakan di
perpustakaan, katalog tersebut disimpan pada laci-laci katalog, katalog
tersebut terbagi dengan berbagai susunan yang digolongkan dalam 3 golongan
besar yaitu :
a.
Katalog
abjad
Yaitu
katalog yang disusun berdasarkan urutan abjad dari nama pengarang, subjek dan
judul dalam satu urutan alfabetis.
Katalog
terdiri dari dari beberapa jenis, yaitu :
1.
Katalog pengarang
Digunakan jika buku yang akan kita cari
hanya diketahui nama pengarangnya. Atau ingin mengetahui pengarang tertentu
telah mengarang buku apa saja. Katalog pengarang disusun sistematis berdasarkan
nama pengarang suatu karya di dalam cabinet katalog. Penulisan nama pengarang
adalah dengan cara menuliskan terlebih dahulu nama keluarga.
2.
Katalog judul
Digunakan jika buku yang akan kita cari
hanya diketahui judul bukunya. Atau ingin mengetahui judul buku tertentu yang
sama telah dikarang oleh pengarang mana saja. Katalog judul disusun secara sistematis berdasarkan judul dalam
cabinet katalog. Melalui katalog judul dapat diketahui judul-judul buku yang
sama, yang dikarang oleh pengarang yang berbeda.
b.
Katalog
lesikal
Digunakan bila kita ingin mengetahui berbagai
buku yang membahas subjek yang sama, biasanya sering digunakan dalam
mengumpulkan bahan pustaka untuk kepentingan pembuatan penelitian, makalah dsb,
yang membahas suatu subyek tertentu. Melalui katalog subyek akan diketahui
karya-karya yang dikarang oleh berbagai pengarang dengan judul yang
berbeda-beda tetapi memiliki pokok bahasan yang sama.
c. Katalog terbagi atau susunan
terpisah (divided catalogue).
Yaitu katalog yang sebelumnya dibagi berdasarkan : Subjek, Pengarang, dan
Judul. Masing- masing kelompok kemudian disusun
berdasarkan abjad (secara alfabetis).
d. Katalog (Classed
catalog atau classified catalogue)
Yaitu katalog subjek
yang disusun menurut suatu urutan nomor klasifikasi.
3. Katalog berbentuk
mikro (microform catalog)
Katalog bentuk mikro atau computer output microform (COM). COM dibuat
pada salah satu bentuk mikrofilm atau mikrofis.
Katalog mikro lebih murah dibanding dengan katalog berbentuk buku dan terbukti
bahwa biaya pemeliharaannya lebih murah dari pada katalog kartu.
Bentuknya ringkas dan mudah menyimpannya.
4. Katalog
komputer terpasang (online computer catalog) (Taylor 1992, 8).
Katalog komputer terpasang (online computer catalog)
sering disebut dengan Online Public Access Catalogue (OPAC), yaitu bentuk
katalog terbaru yang telah digunakan pada sejumlah perpustakaan tertentu.
OPAC menjadi pilihan bentuk katalog yang digunakan diberbagai
perpustakaan. Dari berbagai bentuk fisik katalog yang telah digunakan di
perpustakaan, OPAC dianggap paling luwes (flexible) dan paling mutakhir
(Taylor 1992). Program aplikasi yang digunakan di perpustakaan,
seperti CDS/ISIS, Inmagic, VTLS, Dynix, Tinlib, dan lain-lain.
Pemanfaatan katalog
dulu dan kini
Pada tahun 1914
Angkatan laut Amerika mulai membuat daftar barang-barang militer. Daftar ini
kemudian dipublikasikan oleh “Naval Depot Supply and Stock Catalog “. Meskipun
katalog tersebut masih merupakan tindakan percobaan, namun Angkatan Laut
Amerika merasakan bahwa manfaat katalog tersebut sangat besar dalam penentuan
perang dunia I.
Dari pengalaman
perang ini dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem katalog yang seragam akan
sangat bermanfaat.
Pada tahun 1929,
sistem katalog yang tadinya dimulai di Angkatan Laut, kemudian berkembang
dilingkungan pemerintah Amerika.Pada tahun ini pula
Presiden Hoover memutuskan bahwa “Federal Standard Stock Catalog”
untuk pemerintah berada dalam Departemen Keuangan. Pada saat itu dilingkungan
militer, tidak terdapat barang-barang umum. Sedangkan dinas-dinas lainnya
mengidentifikasi dan mengklarifikasi barang dengan cara sendiri-sendiri dengan
sistem yang berbeda.Yang penting beberapa instansi ini mempunyai katalog barang
mereka sendiri.
Pada tahun
1932 presiden Roosevelt berusaha mengembangkan sistem katalog
di Amerika yang seragam. Dan pada tahun 1935 President memutuskan
suatu peraturan bahwa “Federal Standard Stock Catalog” diberikan untuk
seluruh negara Amerika ,ini berarti bahwa sistim catalog yang seragam mutlak
perlu dilaksanakan dalam setiap Departemen. Dengan demikian setiap departemen
dalam hal pemberian nama ,diskripsi,klasifikasi serta penomoran barang dalam
sistem katalog harus menggunakan cara yang seragam ,dengan
ketentuan ini sistem katalog di Amerika sudah berjalan ,
namun kenyataanya masing – masing instansi masih menggunakan
caranya sendiri dalam mengkatalogkan barang. Sistim ini berlangsung sampai
perang dunia II.
Dari suatu data
statistik dapat dilihat antara tahun 1930 sampai dengan tahun 1935
diterbitkan suatu katalog sebanyak 155,000 items, sesudah tahun 1935 jumlah
tersebut bertambah menjadi 195.000 berarti jumlah total 350.000 items.
Dari jumlah tersebut 120.000 items adalah dobel,
berarti jumlah yang benar (350.000-120.000) = 230.000
items. Dengan banyaknya daftar katalog barang yang
dobel tersebut, berarti bahwa katalog – katalog yang di buat tersebut
tidak bermanfaat.
Selama
perang dunia II di lingkungan pemerintah Amerika
terdapat berbagai sistem katalog yang berbeda. Angkatan Darat dan
Marinir mengunakan sistem katalog yang berbeda.
Demikian pula dengan instansi militer lainya menggunakan sistem
sendiri- sendiri.
Sesuai
perkembangan teknologi, banyak “new items” yang
dihasilkan oleh pabrik dan masuk ke dalam sistim pembekalan
militer.Barang baru yang masuk dalam pembekalan militer akhirnya
tak dapat di bina dengan baik.Banyak masalah baru yang timbul
begitu komplek, akibat dari setiap instansi militer membuat
katalog dari suatu barang yang sama , namun dengan nama dan
nomor serta diskripsi yang berbeda. Kesemrawutan
ini menyebabkan akibat yang serius. Karena perbedaan dalam
penyebutan nomor, serta diskripsi barang terhadap
item yang sama, mengakibatkan lemahnya atau tidak
seragamnya dukungan pembekalan. Akibat dari ini maka orang-orang yang
bertugas dalam sistem dukungan pembekalan selalu mendapat tugas yang
tidak sukses.
Pada tanggal
18 Januari 1945 Roosevolt mengakui bahwa kesemrawutan katalog
Amerika mengakibatkan pemborosan keuangan dan membahayakan keamanan
negara . Pada saat itu pula diperintahkan seluruh Amerika untuk
mengadakan persiapan guna melaksanakan komoditi katalog yang
standard. Seluruh instansi pemerintah harus menggunakan katalog
standard tersebut.
Presiden
Truman menggunakan sistem ini lebih lanjut, dengan
melaksanakan kerja sama antar departemen melalui persetujuan kerja sama.
Pada tanggal
3 Juli 1947 Angkatan Darat dan Angkatan Laut membentuk
sistem cataloging yang sama.
Pada tanggal 1 Juli
1952 dengan Undang-Undang nomor : 436 Departemen Pertahanan dan Keamanan
Amerika (DOD) mengesahkan “The Defense Cataloging and Standarization Aet”
(Undang-udang Katalogisasi dan Standarisasi Pertahanan).Pada saat ini
ditetapkan bahwa sistem penomoran barang menggunakan“Federal Stock Number”
(FSN).Sistem katalog DOD dan Departemen Sipil berkembang menjadi sistem yang
integral, sistem ini merupakan sistem yang luas dan terdiri dari berbagai
kegiatan.
Pada tahun 1956
beberapa negara kelompok NATO ikut menggunakan sistem (FSN). Mulailah kode
Federal Stock Number (FSN) berubah menjadi “Nato Stock Number” (NSN).
Pada tanggal 1
Januari 1962 “Defense Logistics Services Center” (DLSC)
dibentuk. DLSC ini merupakan pusat kegiatan katalog Amerika serta
negara-negara NATO.
Pada tahun 1965
seluruh katalog barang dengan stock number (baik yang Federal maupun NATO
System) diproses dengan komputer.
Pada tahun 1975
sistem NSN diresmikan penggunaannya oleh pemerintah Amerika dan berlaku pula
untuk negara-negara Eropa dalam bentuk blok NATO. Bulan-bulan berikutnya hampir
seluruh negara Eropa (kecuali Blok Timur) menggunakan NSN. Sistem ini kemudian
diikuti oleh negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Indonesia (TNI
AU) resmi menggunakan sistem ini mulai tahun 1983 (meskipun sebelumnya sudah
menggunakan NSN).
Selain katalog di
perpustakaan, masyarakat di Indonesia mungkin sudah mengenal yang namanya
katalog produk atau katalog barang, Karena didunia penjualan saat ini sudah
sangat banyak produsen atau penjual yang menggunakan katalog produk untuk
melakukan penjualan barang. Baik dari perusahaan MLM, Keagenan Busana, Penjual
elektronik, Pelaku pasar produk kesehatan dan masih banyak lagi yang lainnya.
Selaku pelaku
bisnis waralaba, Alfamart katalog berfungsi untuk memberitahukan produk-produk
mereka sekaligus harga-harga terupdate serta penawaran promo yang diberlakukan
pada tanggal-tanggal tertentu. Selain itu, melalui katalog yang bisa diperoleh
di Alfamart maupun dibagikan oleh para pegawai Alfamart dari rumah ke rumah,
Anda bisa mengetahui berbagai kontes unik yang diselenggarakan oleh Alfamart. Salah
satunya adalah Kontes Foto Oreo yang akan dilakukan mulai dari tanggal 1
November hingga 1 31 Desember 2016. Kontes foto ini menawakan berbagai hadiah
menarik seperti liburan gratis ke Labuan Bajo, 1 buah Apple Macbook Air, 1 buah
Samsung Galaxy S7 Edge, 1 buah Nikon D3400, 10 buah Samsung Galaxy On 7, dan 50
voucher belanja masing-masing senilai Rp 500 ribu.
Tentunya, terkadang
ada pelanggan yang harus datang terlebih dahulu ke gerai untuk mengetahui harga
barang yang dijual di Alfamart, namun dengan ketersediaan Alfamart katalog
tersebut maka efektivitas dapat lebih ditingkatkan karena produk-produk yang
tersedia akan ‘dijelaskan’ dengan mudah dan singkat menggunakan katalog.Dalam
hal promo produk, dengan memanfaatkan Alfamart katalog, maka pelanggan tidak
akan terlewat akan suatu promosi produk yang sebelumnya dijual dengan harga
tertentu namun akhirnya dipangkas untuk jangka waktu tertentu.
Bagi konsumen,
katalog juga menjadi panduan untuk membeli produk sekaligus menjadi bahan bukti
klaim jika ternyata produk yang dijual tidak sesuai dengan harga di katalog.
Dalam hal ini, katalog juga menjadi tolak ukur kejujuran produsen kepada para
konsumen.
Kesimpulan
Katalog adalah Presentasi ciri-ciri dari sebuah bahan
pustaka atau dokumen (misalnya: judul, pengarang, deskripsi fisik, subyek,
dll.) koleksi perpustakaan yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka tersebut
yang disusun secara sistematis.
Fungsi
katalog dalam kegiatan promosi adalah sebagai media yang dapat menunjukkan
segala macam produk yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang disusun sesuai
dengan jenis produk, fungsi produk, dan katagori produknya. Selain itu juga
membantu perusahaan agar dapat mempermudah mempromosikan produknya
kepada konsumen. Apalagi perusahaan yang memiliki konsumen yang cangkupannya
luas.
DAFTAR
PUSTAKA
Dony prisma wordpress. Katalog perpustakaan. Diakses 30 Juni 2012 https://donyprisma.wordpress.com/2012/06/30/katalog-perpustakaan/
Syam, Edi. (2016). Pengertian,
jenis dan manfaat katalog. Diakses 12 Febuari 2017
Fahmi, Yusri. (2015). Katalog perpustakaan di era world wide web : redefinisi tujuan dan
fungsi katalog. Diakses 12 Febuari 2017 http://www.kompasiana.com/elfarach/katalog-perpustakaan-di-era-world-wide-web-redefinisi-tujuan-dan-fungsi-katalog-perpustakaan_54f79c37a33311601c8b4578
JENIS BUKU DAN ANALISIS SUBJEKNYA
OLEH :
KADEK AYU SRI UTAMI WILLASARI
1712312020
PROGRAM STUDI D3 PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS UDAYANA
ABSTRAK
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui
dan mendeskripsikan bagaimana analisis subjek dari buku. Analisis subjek adalah
langkah awal dalam kegiatan klasifikasi yaitu proses meneliti, mengkaji dan
menyimpulkan isi yang dibahas dalam bahan pustaka atau proses penentuan subjek
isi yang terkandung dalam sebuah koleksi.
Kata Kunci : Jenis Konsep, Nomor Kelas,
Analisis Subjek dan Subjek
DEFENISI/PENGERTIAN ANALISIS SUBJEK
ANALISIS SUBJEK
Untuk dapat
menentukan subjek sebuah koleksi atau bahan pustaka maka perlu dilakukan proses
analisis subjek. Analisis subjek adalah kegiatan atau proses penentuan subjek
atau isi yang terkandung dalam sebuah koleksi.
Dalam kegiatan
analisis subjek ada dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu jenis konsep
dan jenis subjek. Jenis konsep dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :
a. Fenomena
Merupakan masalah
yang menjadi bahasan utama di dalam bahan Pustaka. Fenomena dibedakan menjadi
objek konkret dan objek abstrak. Objek konkret contohnya adalah Perpustakaan, Komputer.
Sedangkan objek abstrak contohnya antara lain budaya dan agama.
b. Disiplin Ilmu
Merupakan
disiplin ilmu utama atau cabang dari disiplin ilmu utama yang dibahas dalam
sebuah bahan pustaka. Disiplin ilmu utama disebut juga dengan istilah disiplin
ilmu fundamental dan cabang disiplin ilmu disebut subdisplin. Misalnya ilmu
sosial maka cabang disiplin ilmu tersebut antara lain sosiologi, ilmu politik
ilmu hukum, administrasi dan lain sebagainya.
c. Bentuk Penyajian
Merupakan
organisasi penyajian sebjek dalam bahan pustaka menurut bentuk fisik,
sistematika penyajian dan bentuk intelektual. Seperti Majalah, Kamus,
Ensiklopedia, Direktori, Statistik.
Untuk jenis subjek dibedakan ke dalam
empat jenis. Keempat jenis subjek tersebut adalah :
a. Subjek Dasar
Adalah jenis
subjek bahan pustaka yang terdiri dari satu jenis disiplin ilmu. Misalnya politik,
pendidikan, ekonomi dan lain-lain.
b. Subjek Sederhana
Adalah subjek
bahan pustaka terdiri dari satu faset pembagian dari satu disiplin ilmu. Misalnya
pendidikandasar.
c. Subjek Majemuk
Adalah jenis
subjek bahan pustaka terdiri dari lebih satu faset pembagian dari disiplin
ilmu. Misalnya Pendidikan Dasar di Indonesia.
d. Subjek kompleks
Adalah jenis
subjek suatu bahan pustaka yang terdiri dua subjek atau lebih yang saling
berinteraksi dari satu disiplin ilmu atau lebih. Contoh pengaruh narkoba
terhadap kenalakan remaja.
Cara Menentukan Subjek
Hasil
analisis subjek adalah deskripsi tentang subjek sebuah koleksi. Untuk melakukan
proses analisis subjek sehingga menghasilkan deskripsi subejek adalah deskripsi
tentang subjek sebuah koleksi, dilakakukan dengan cara :
1. membaca judul dari bahan pustaka, jika
dirasa bahwa judul telah merefleksikan subjek sebuah buku
2. membaca halaman sebalik halaman judul. Di
dalam halaman judul terdapat katalog dalam terbitan yang dapat menampilkan
subjek dari sebuah bahan pustaka
3. membaca daftar isi jika dengan membaca
judul dan halaman kolofon belum diketahui subjek dari sebuah koleksi
4. Membaca kata pengantar dari sebuah
koleksi
5. Membaca ringkasan buku yang biasanya
terdapat pada halaman belakang buku.
6. Membaca buku secara keseluruhan jika
dengan melaakukan berbagai instruksi di atas belum ditemukan subjek dari
koleksi tersebut.
7. Menggunakan sumber-sumber lain seperti
bibliografi, kamus.
8. Bertanya kepada subjek spesialis jika
semua langkah telah dilakukan belum mampu menentukan subjek dari sebuah
koleksi.
Menentukan Notasi atau Nomor Kelas
Notasi atau nomor klas dapat diartikan
sebagai simbol atau kode yang mewakili sebuah subjek bahan pustaka dalam bagan
klasifikasi. Notasi dapat berupa huruf, angka bahkan warna. Namun diantara
ketiga jenis notasi tersebut, angka merupakan jenis notasi yang banyak
digunakan oleh perpustakaan. Motivasi perpustakaan memanfaatkan angka sebagai
notasi salah satunya karena notasi angka memiliki bagan yang berlaku secara
internasional seperti DDC (Dewey Decimal
Classification), Universal Decimal Classfication Library of Congress.
Berikut ini adalah penjelasan tentang
ketiga jenis notasi yang dapat digunakan oleh perpustakaan :
a. Warna
Apabila perpustkaan akan menggunakan
warna sebagai identitas klasifikasi maka subje dari koleksi diwakili oleh satu
jenis warna untuk setiap subjeknya. Misalnya warna putih untuk subjek karya
umum, merah untuk sosial, biru untuk subjek ilmu terapan dan seterusnya.
b. Huruf
Pada prinsipnya penggunaan abjad
sebagai notasi hampir sama dengan penggunaan warna dalam sistem klasifikasi,
dimana setiap abjad mewakili subjek tertentu. Misalnya huruf
-
mewakili subjek
pengetahuan umum
-
mewakili subjek
filsafat
-
mewakili subjek
agama
c. Angka atau nomor klasifikasi
Jenis notasi yang terakhir adalah
notasi dengan menggunakan angka. Notasi angka diperoleh dari sistem klasifikasi
yang ada. Saat ini ada beberapa sistem klasifikasi yang familiar digunakan di
Indonesia. Sistem tersebut antara lain DDC (Dewey Decimal Classification), Universal
Decimal Classification (UDC), Library of Conggress (LC) dan Colon
Classification. Disini hanya akan dijelaskan satu sistem klasifikasi yaitu DDC
karena sistem klasifikasi ini adalah sistem klasifikasi yang paling banyak
digunakan.
Dewey Decimal Classification atau DDC
merupakan salah satu sistem klasifikasi yang familiar yang digunakan oleh
banyak perpustakaan di Tanah Air. Sistem ini menyangkut seluruh subjek ilmu
pengetahuan yang disusun secara sistematis dan teratur. Pembagian ilmu (Subjek
ilmu Pengetahuan) dimulai dari subjek yng bersifat umum menuju subjek bersifat
khusus. Pembagian subjek dalam sistem ini dimulai dari subjek besar atau umum
yang disebut dengan kelas utama.
Contohnya :
Sepuluh Kelas Utama Dalam DDC terdiri dari :
-
000 karya umum
-
100 filsafat dan psikologi
-
200 agama
-
300 ilmu sosial
-
400 bahasa
-
500 ilmu murni
-
600 teknologi/ilmu terapan
-
700 kesenian dan olahraga
-
800 kesustraan
-
900 sejarah dan geografi
ANALISI SUBJEK
Ø Judul : Budaya Indonesia ; kajian
Arkeologi, Seni dan Sejarah
Pengarang : Edi Sedyawati
Penerbit : PT RajaGrafindo Persada, Jakarta
Disiplin
ilmu : Ilmu sejarah
Fenomena : Budaya kajian Arkeologi, Seni dan
Sejarah
Subjek : Indonesia
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 930.1
Ø Judul : Sejarah Pemikiran Barat ; dari
klasik sampai yang modern
Pengarang : Sutarjo Adisusilo
Penerbit : PT RajaGrafindo Persada, Jakarta
Disiplin
ilmu : Ilmu sejarah
Fenomena : Sejarah Pemikiran Barat
Subjek : Pemikiran
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 910
Ø Judul : Pengantar Ilmu Sejarah
Indonesia
Pengarang : R.Moh.Ali
Penerbit : PT lkis Printing Cemerlang
Disiplin
Ilmu : Ilmu sejarah
Fenomena : Sejarah dan Indonesia
Subjek : Sejarah, Indonesia
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 900
Ø Judul : Sosiologi Perubahan Sosial;
Perspektif klasik, Modern,Posmodern,Poskolonial
Pengarang : Prof.Kamanto Sunarto,S.H.,Ph.D
Penerbit : PT RajaGrafindo Persada, Jakarta
Disiplin
ilmu : Ilmu sosial
Fenomena : Perubahan sosial
Subjek : Sosiologi
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 303.4
Ø Judul : Patalogi Sosial;
Gangguan-gangguan Kejiwaan
Pengarang : DR.Kartini Kartono
Penerbit : PT RajaGrafindo Persada, Jakarta
Disiplin
ilmu : Ilmu Psikologi
Fenomena : Patalogi sosial
Subjek : Kejiwaan
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 157
Ø Judul : Pengantar Ilmu Sejarah
Pengarang : KUNTOWIJOYO
Penerbit : Tiara Dewata
Disiplin
ilmu : Ilmu Sejarah
Fenomena : Pengantar ilmu sejarah
Subjek : Sejarah
Bentuk :Buku
Nomer
kelas : 900
Ø Judul : Manajemen Produksi
Pengarang : Hendra Kusuma
Penerbit : C.V ANDI OFFSET
Disiplin
ilmu : Ilmu terapan
Fenomena : Manajemen
Subjek : Produksi
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 658.02
Ø Judul : Kembara Budaya; Antalogi Pemikiran
Pengarang : Putu Suasta
Penerbit : Bali Mangsi Foundation
Displin
ilmu : Ilmu kesustraan
Fenomena : Kembara
Subjek : Budaya
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 808.8
Ø Judul : Perang Suci Atas Nama Tuhan;
Dalam Tradisi Barat dan Islam
Pengarang : James Turner Johnson
Penerbit : Pustaka Hidayah
Disiplin
ilmu : Ilmu agama
Fenomena : Perang Suci
Subjek : Tuhan
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 297.46
Ø Judul : Rasionalisasi dan Penemuan
Ide-Ide
Pengarang : DR.KONRAD KEBUNG, SVD
Penerbit : Prestasi Pustakarya
Disiplin
ilmu : Ilmu Filsafat
Fenomena : Rasionalisasi
Subjek : Ide
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 149.7
Ø Judul : Agama Malim di Tanah Batak
Pengarang : Ibrahim Gultom
Penerbit : PT Bumi Aksara
Displin
ilmu : Ilmu agama
Fenomena : Agama Malim
Subjek : Tanah Batak
Bentuk : Buku
Nomer
kelas :291.09
Ø Judul : Sosiologi Pendidikan;
Individu, Masyarakat dan Pendidikan
Pengarang : Prof.Dr.H.Abdullah idi, M.Ed
Penerbit : PT RajaGrafindo Persada, Jakarta
Disiplin
ilmu : Ilmu sosial
Fenomena : Pendidikan Sosiologi
Subjek : Pendidikan
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 306.85
Ø Judul : Fisika Bangunan
Pengarang : Prasasto Satwiko
Penerbit : C.V ANDI OFFSET
Disiplin
ilmu : Ilmu murni
Fenomena : Fisika
Subjek : Bangunan
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 536.02
Ø Judul :Astronomi; ilmu Pengetahuan
luar Angkasa
Pengarang : Jajak MD
Penerbit : Harapan Baru Raya, Jakarta
Disiplin
ilmu : Ilmu Murni
Fenomena : Astronomi
Subjek : Luar angkasa
Bentuk :Buku
Nomer
kelas : 520
Ø Judul : Kesaksian Guru di Aceh
Pengarang : Drs.H.Malik Raden, MM
Penerbit : PT Sutra Benta Perkasa
Disiplin
ilmu : Ilmu Murni
Fenomena : Kesaksian
Subjek : Guru
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 551.22
Ø Judul : Pengantar Komunikasi Massa
Pengarang : Nurudin,M.Si
Penerbit : PT RajaGrafindo Persada, Jakarta
Disiplin
ilmu : Ilmu sosial
Fenomena : Pengantar Komunikasi
Subjek : Massa
Bentuk : Buku
Nomer
kelas : 302.23
Ø Judul : Tindak Pidana Mengenai
Kesopanan
Pengarang : Drs.Adami Chazawi,S.H
Penerbit : PT RajaGrafindo Persada, Jakarta
Disiplin
ilmu : ilmu sosial
Fenomena : Tindak Pidana
Subjek : Kesopanan
Bentuk :Buku
Nomer
kelas : 344
Ø Judul : Pornografi dan Premanisme
Pengarang : Zaitunah Subhan
Penerbit : el-KAHFI
Disiplin
ilmu : Ilmu Psikologi
Fenomena
: Pornografi
Subjek : Premanisme
Bentuk : Buku
Nomor
kelas : 176.8
Ø Judul : Psikologi Kepribadian dengan
Perspektif baru
Pengarang : Purwa Atmaja Prawira
Penerbit :AR-RUZZ Media
Disiplin
Ilmu : Psikologi
Fenomena : Kepribadian Perspektif Baru
Subjek : Psikologi
Bentuk : Buku
Nomor
Kelas : 155.2
Ø Judul : Spritualitas Hindu untuk
Kehidupan Modern
Pengarang : Swami Muktananda
Penerbit : Media Hindu
DIsiplin
Ilmu : Ilmu agama
Fenomena : Spiritualitas
Subjek : Kehidupan
Bentuk : Buku
Nomor
Kelas : 294.5
KESIMPULAN
Analisis subjek merupakan salah satu informasi yang
penting di dalam kegiatan penelusuran infromasi di perpustakaan. Mekanisme dalam
prakteknya perlu dikembangkan dan diperbaiki. Mulai dari penyusunan awal sampai
ke penyusuan akhir. Sesuai dengan tujuan
bahwa dibuatnya analisis subjek agar mengetahui dan dapat menganalisis bagian
dari buku itu. Di dalam menentukan analisis subjek ini seorang pustakawan juga
dituntut agar lebih berhati-hati dalam meneliti analisis subjek yang sudah
ditentukan.
DAFTAR
PUSTAKA
Gultom, H. (2014). Analisis
Subjek Bahan Pustaka. Retrieved April 14, 2018, from
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/50444/1/Analisis%20Bahan%20Pustaka.pdf
Komentar
Posting Komentar